. azharmind.com

Jokowi dan Politik Akal Sehat

Pemilu 9 April, Pemilu Legislatif (Pileg) usai sudah. Partai politik (parpol) bersiap menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) bulan Juli 2014. Gerindra dan Prabowo sedang bungah menikmati hasil Pileg. Golkar dan Aburizal Bakrie sedang sibuk menghitung perolehan jumlah kursi di DPR. Suryadharma Ali sibuk menangkis gugatan dan mengamankan posisinya sebagai Ketua Umum PPP. Partai Demokrat, sedang puyeng merenungi kemerosotan perolehan suara, boro-boro mikir capres. Ketika jajaran teras PDIP sibuk menyeleksi cawapres, Jokowi dengan lincahnya bermanuver “satu langkah di depan capres yang lain”.

Dengan Uang Politik, Parlemen Indonesia Bisa Dibeli





Pesta demokrasi sudah berjalan, fakta di lapangan membuktikan bahwa Caleg yang memberi uang lebih  memperoleh dukungan dari masyarakat. Sebaliknya, caleg yang memberi pas-pasan atau mau lurus-lurus saja tanpa politik uang, tak kebagian suara.



Pagelaran Wayang Orang Kembali Diminati Elite dan Anak Muda

Awalnya Saya pikir Pagelaran Wayang Orang tak diminati pencari hiburan di kota Semarang, malam itu (15/3/2014) Aku mencoba menonton bersama istriku dan dua anakku yang sudah beranjak dewasa menuju ke TBRS base camp WO Ngesti Pandowo mementaskan Wayang Orang Gabungan 4 kota besar dengan lakon Kresno- Gatotkoco Kembar.

Ibu Risma yang Koboi dan Nyentrik

Banyak orang berpendapat gaya kepemimpinnya yang koboi dan nyentrik. Dua kata ini dalam kamus bahasa Indonesia bisa berarti adalah orang yang bertindak seenaknya sendiri, nyentrik artinya berprilaku di luar kebiasaan. Melihat arti tersebut dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda bagi siapa pun yang mengartikan gaya kepemimpinan ala Ibu Risma ini.

Indonesia sendiri banyak mempunyai pemimpin yang memiliki karakter atau gaya kepemimpinan yang berbeda. Antara lain: Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno memiliki gaya kepemimpinan yang bersemangat dengan rela berkorban bagi rakyat dan bangsanya. Gubernur DKI Jakarta Jokowi memiliki karakter kepemimpinan yang dikenal dengan blusukannya, terkesan santai dan merakyat. Kemudian Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki atau dikenal Ahok sangat dikenal dengan sifat tegas,berteriak keras jika marah tidak ditutup-tutupi dan berpihak pada rakyat.

Sosok Ibu Risma sendiri adalah paduan dari ketiga sosok pemimpin di atas, ia rela berkorban demi warganya, tegas menyelesaikan sesuatu masalah, melakukan blusukan dengan gayanya sendiri, marah jika ada pelanggaran yang tertangkap oleh matanya, tidak berusaha menutupi segala sesuatu yang ia lihat tidak benar, apa adanya, tegas tidak kompromi jika itu merugikan warganya dan juga berjuang demi rakyat kecil. Ia tidak peduli dengan citra kepemimpinan yang di labelkan pada dirinya koboi dan nyentrik.

Jika kita belum mengenalnya secara jauh hanya melihat dan mendengar dari apa yang diberitakan, ada kemungkinan kita menarik kesimpulan kurang tepat. Membuat kita bisa mengeluarkan pernyataan yang negatif yang merugikan bukan hanya kita tetapi juga seluruh rakyat Indonesia.

Siapakah Ibu Risma ini?
Nama lengkapnya Ibu Tri Risma Harini atau Ir.Tri Rismaharini,M.T. Di lantik sebagai Walikota Perempuan Pertama di kota Surabaya, Jawa Timur per tanggal 28 September 2010. Sebelumnya beliau menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertanaman (DKP) kota Surabaya dan Kepala Perencanaan Kota Surabaya (Bappeko) hingga tahun 2010.

Tampak kesederhanaan dari penampilannya, jauh kesan seorang pejabat. Keseharian ia hanya menggunakan baju batik simpel, berkerudung seperti wanita muslim umumnya, tanpa polesan apa pun diwajahnya, serta perhiasan melengkapi penampilan. Dalam melaksanakan tugas, ia di temani oleh supir, dan ajudan dengan menggunakan kendaraan yang sederhana. Mengintari seputar kota Surabaya untuk menyambangi rakyat yang membutukan bantuan.

Kesederhanaan tutur katanya yang membuat rakyat kecil mudah mengartikan. Selalu berbicara jujur tidak ada yang disembunyikan. Saat harus marah ia tidak berusaha menahan amarahnya karena ia memiliki alasan untuk marah, jika tidak marah maka orang yang bersangkutan tidak mengerti kesalahannya. Ketika harus menegur ia akan menegur dengan cara tegas, tetap berusaha membuat tidak tersinggung yang mendengarnya.

Tidak sombong dan menggurui terlihat dari kata-kata yang digunakan, serta raut wajah yang ditampilkan. Tanpa terkesan mengajari yang seolah-olah menunjukan bahwa ia lebih pintar dari segi pengalaman dan pengetahuan.

Kesederhanaan tingkah lakunya. Terlihat tidak memberi kesan bahwa ia adalah seorang pejabat yang harus diutamakan dan disambut kedatangannya. Dengan gaya nyetriknya setiap hari blusukan artinya mengunjungi kemana pun sesuai kata hatinya tidak perlu agenda, hanya Tuhan yang memimpin kakinya kemana seorang Risma harus melangkah.

Langsung turun tangan tanpa menunggu bantuan datang. Dengan pertimbangan orang yang menderita butuh segera di bantu. Salah satu sebab mengapa kepemimpinannya sering disebut ala koboi. Timbul pertanyaan kenapa ia tidak mendelegasikan tugas tersebut ke bawahannya? Jawabannya mudah, bahwa orang tersebut butuh dibantu segera, setelah itu penanganan berikutnya bisa di delegasikan.

Apa yang telah Ibu Risma lakukan cukup banyak dapat dirasakan oleh masyarakat Surabaya khususnya dan memberikan efek positif yang baik bagi masyarakat Bangsa dan Negara Indonesia. Beberapa Penghargaan yang sudah di terimanya. Sungguh sangat mengharumkan nama Negara Indonesia di mata International.

Masyarakat seperti apa yang di lirik Ibu Risma?
Masyarakat yang mendapat perhatian bukan hanya masyarakat pada umumnya tetapi lebih kepada masyarakat yang terlupakan antara lain: anak-anak muda yang kurang perhatian, penghuni lokalisasi, orang-orang gila yang tidak memiliki tempat tinggal, para buruh, masyarakat miskin dan masih banyak kategori masyarakat lainnya yang menderita.

Ibu Risma berjuang bukan saja untuk kepentingan warga dan kota Surabaya saja tetapi untuk memberikan yang terbaik bagi tanah air. Untuk memberikan contoh kepada pemimpin lain dan calon pemimpin generasi muda Indonesia. Beginilah cara kepemimpinan yang harus diterapkan untuk membangun Negara Indonesia. Juga untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa masih ada pemimpin di tanah air ini yang pro rakyat kecil.

Ketika pertama kali mengucapkan sumpah, Ibu Risma sudah tahu resikonya. Bahwa ia adalah milik seluruh warga masyarakat Surabaya bukan hanya keluarganya saja. Perinsipnya, ia adalah pelayan warga Surabaya. Arti pelayan sendiri adalah orang yang melayani bukan yang dilayani. Jelas sekali ia mengerti dengan tanggung jawabnya sebelum ia menjalankan tugas sebagai Walikota Surabaya.

Pro dan Kontra dengan gaya kepemimpinan Ibu Risma
Gaya kepemimpinan berlabel koboi dan nyentrik yang berpihak pada rakyat kecil sering mengalami kritikan bahkan tekanan dari pejabat yang tidak setuju dengan sepak terjangnya dalam menyelesaikan masalah. Kebijakannya sering dianggap tidak populer serta di anggap melawan arus.
Tekanan bukan saja dari  kalangan pejabat tetapi dari pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh sepak- terjangnya itu. Di anggap merugikan kelompok-kelompok tertentu.

Ketulusan hati Ibu Risma
Ibu Risma seorang wanita yang mempunyai keluarga, memiliki hati keibuan. Istri dan ibu dari 2 orang anak remaja yang juga membutuhkan perhatian dan kehadirannya. Ketika segala tekanan yang berat sekali pun sudah ia lewati tidak berhenti menyerangnya, membuat seorang Risma mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sebagai Walikota Surabaya. Ia sudah sampai pada titik dimana tidak kuasa menghadapi kekuatan-kekuatan yang menyerangnya. Hanya Tuhan yang tahu itu ungkapnya dengan beruraian air mata ketika pertanyaan dilontarkan dalam acara Mata Najwa di Metro TV,  mengapa ia berkeinginan mundur dan  rela meninggalkan rakyatnya. Dengan ketulusan hati ia menjawab :
“semua sudah saya berikan yang terbaik untuk warga Surabaya, tidak tersisa lagi”

Bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia melihat ini semua?
Apakah kita masih meragukan gaya kepemimpinan Risma yang koboi dan nyetrik tersebut dengan mengabaikan ketulusan hati Risma untuk membuat mayarakat Surabaya dan masyarakat Indonesia menjadi lebih bermartabat. Sanggupkah kita sebagai generasi muda untuk diam saja?
Hendaklah kita semua berusaha untuk melihat ketulusan hati seorang Risma dengan kacamata yang jernih. Jangan hanya mengukur dari sepak terjang dan tindakannya yang dianggap aneh.
Hatinya yang tulus harus di hargai agar Risma-Risma lain bermunculan bukan hanya di Surabaya saja tetapi di setiap penjuru kota di tanah air tercinta kita Indonesia.

Maria Nereng
Sumber: Kompasiana

Miranda, Anak Umur 10 tahun Penderita Keterbelakangan Mental Merawat Ayah Sakit Strook

Disudut Kota Kendari Sulawesi Tenggara ada seorang anak perempuan umur 10 tahun bernama Miranda kondisi keterbelakangan mental, usia 10 tahun hidup berdua dengan ayahnya yang sedang terbaring lemah karena sakit strook.
 
Miranda dengan  tangan kiri yang masih normal menyuapi ayahnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...