. Azhar Muhammad

Berpuasa Di Wilayah Ekstrem Dunia

Seekor beruang tetap bisa hidup dikutub utara, atas rancangan dan ketentuan Allah SWT.
Bulan Ramadan merupakan bulan pembinaan Iman seorang muslim untuk membentuk, mempertahankan dn meningkatkan ketaqwaan. 
Telah berlaku pula ketetntuan berpuasa kepada kaum sebelum ummat nabi Muahammad yang berbeda letak geografi sehingga durasi imsakiyah di berbagai wilayah berbeda-beda, bahkan ada yang harus menahan hasrat makan minum hingg 22 jam. 
Bagaimana seseorang menjalani puasa ketika terbitnya matahari terjadi sangat dini hari dan tenggelam sangat malam?
Hal ini menjadi pertanyaan yang dihadapi sejumlah kecil Muslim yang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan di ujung utara Eropa, di mana matahari tenggelam hanya beberapa saja, sehingga membuat puasa menjadi sangat lama.

Namun demikian tidak menjadi halangan bagi seorang muslim untuk melakukan puasa Ramadhan bila diniati lillahi ta'ala.

Macam Cara Baca Al-Qur'an

Generasi terdahulu umat Islam dari kalangan Sahabat dan Tabi’in kata Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah selalu berkumpul untuk tilawah dan saling menyimak Al-Qur’an dalam rangka menata hati dan mensucikan jiwa mereka. Rumah-rumah mereka, khususnya di bulan Ramadhan, berdengung tak ubahnya lebah-lebah, terpancari sinar, bertabur kebahagiaan. Mereka membaca Al-Qur’an dengan tartil, berhenti sejenak pada ayat-ayat yang membuat mereka ta’jub, menangis di kala mendengar keindahan nasehat-nasehatNya, gembira dengan kabar kebahagiaan. Mereka mentaati perintahNya sebagaimana menjauhi larangaNnya.

Menghafal itu Bukan Belajar

Salah satu kegemasan saya soal pendidikan di Indonesia adalah soal kebiasaan menjadikan kegiatan menghafal sebagai bagian utama dari proses belajar. Ini dilakukan secara sadar maupun tidak.
Yang dilakukan secara sadar adalah perintah untuk menghafal doa, teks, ayat, dan sebagainya. Yang dilakukan secara tidak sadar adalah materi pelajaran yang melebihi porsi, sehingga mustahil dipahami anak.
Akhirnya ditempuh jalan pintas, yaitu, hafalkan saja. Sangat menyedihkan bila melihat bahwa pendidikan dasar kita didominasi oleh kegiatan menghafal.

Pidato Natal Gus Dur: Tak Sedetik pun Saya Merasa Berbeda


 Selasa, 28 Desember 1999
 "Saya adalah seorang yang menyakini kebenaran agama saya. Tetapi ini
   tidak menghalangi saya untuk merasa bersaudara dengan orang yang
   beragama lain di negeri ini, bahkan dengan sesama umat manusia. Sejak
   kecil itu saya rasakan, walaupun saya tinggal di lingkungan pondok
   pesantren, hidup di kalangan keluarga kiai. Tetapi tidak pernah
   sedetik pun saya merasa berbeda dengan yang lain." 

Sejarah Banser Jaga Gereja Pada Perayaan Natal

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah tokoh yang pertama membuat tradisi Banser NU menjaga gereja. Perintah penjagaan saat natal itu datang tak terlalu lama setelah ada kerusuhan dan pembakaran gereja di Situbondo, Jawa Timur. Sebagaimana diketahui, kerusuhan itu terjadi pada 10 Oktober 1996.

Saat itu, Ketua Pengurus Wilayah Ansor Jawa Timur adalah Choirul Anam. Dalam suatu pertemuan di tahun 1996-1997, salah seorang anggota Ansor Jawa Timur bertanya ke Gus Dur perihal bagaimana hukumnya seorang Muslim menjaga gereja. Gus Dur dengan cerdas menjawab ke rombongan Ansor itu.

"Kamu niatkan jaga Indonesia bila kamu enggak mau jaga gereja. Sebab gereja itu ada di Indonesia, Tanah Air kita. Tidak boleh ada yang mengganggu tempat ibadah agama apapun di bumi Indonesia, kata Gus Dur," kata Gus Dur saat itu, sebagaiman ditirukan Nusron Wahid, Jumat (23/12/2016).

Nusron ketika itu belum menjadi pimpinan teras Ansor, ia hanya sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Universitas Indonesia (UI). Nusron tahu sejarah itu karena kebetulan sering berkunjung dan 'ngaji pergerakan' ke tempat Gus Dur.

"Sejak diperintah itu, Cak Anam (Ketua Ansor Jatim saat itu) langsung memerintahkan seluruh Banser Jatim untuk menjaga gereja lengkap dengan dalil-dalil dan ayatnya," ungkap Nusron, sebagaimana dilansir Dutaislam.com dari Detikcom.

Saat Nusron menjadi Ketua Umum GP Ansor, Gus Dur telah wafat. Namun perintah menjaga gereja tetap dipegang teguh, termasuk sebagai senjata untuk menghadapi pihak-pihak yang tak setuju dengan langkah pengamanan gereja oleh umat muslim ini.

"Yang kita jaga itu Indonesia. Jangan lihat gerejanya. Kalau ada kiai dan habaib yang masih ngeyel, saya jawab bahwa saya dipesenin Almarhum Gus Dur dan diperintah Habib Luthfi," tandas Nusron.

Habib Luthfi Dalil Jaga Gereja
Soal dalil mendalil Banser NU menjaga gereja itu sebetulnya sudah selesai dibahas. Namun masih ada saja yang menuduh Banser meridhai dan merestui kekafiran. Padahal, hal itu dibantah sendiri dengan pernyataan anggota Banser. Tidak sesederhana itu melihat bakti Banser kepada keutuhan negeri.


"Perlu ditegaskan tidak ada unsur rela kekafiran, tapi lebih pada membumikan prinsip kemanusiaan. Salah satu prinsip kemanusiaan itu adalah menebarkan kasih sayang kepada yang lain, termasuk pada yang kafir," tegas Wasid Mansyur, Dewan Pakar Rijalul Ansor Jatim, Kamis (22/12/2016).

Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Tsimarul Yani'ah ala Riyadhil Badi'ah menulis, "hendaklah seseorang berinteraksi dengan Ihsan bersama semua orang, baik urusan agama atau dunia, agar kelak menjadi husnul khotimah, jika kelak meninggal. Yakni, dengan menebar kasih kepada yang seiman, murah hati kepada yang dhalim, memaafkan orang-orang yang bodoh, berbaik kepada yang berbuat jelek, dan belas kasih kepada semua hamba Allah (termasuk, yang kafir)".

Karena itulah, lanjut Cak Wasid, upaya menjaga gereja lebih didasari pada semangat kemanusiaan. "Apalagi anggota Banser posisi di luar, tidak di dalam ikut kebaktian. Langkah arif ini, semoga memberi cela dan teladan bahwa mayoritas harus ikut andil berperan menjaga minoritas," imbuhnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Abid Umar, Wakil Ketua Ansor. Ia mempertanyakan, jika Banser dikafirkan hanya menjaga gereja saat Natal. Lalu berapa ribu security atau satpam yang bekerja sebagai penjaga gereja di Indonesia harus murtad? "Mereka mayoritas muslim, apa pekerjaan mereka haram," ujar Abid.

Banser, kata Cak Abid, hanya hadir saat momen Natal, "itupun disertai surat tugas dan koordinasi dengan aparat kepolisian. Mereka yang melarang dengan dalil agama dan lainnya, bisakah menjamin negeri ini tidak ada lagi ada ancaman bom/teror dan sejenisnya," paparnya.

Ia mengajak untuk menengok saudara-saudara sebangsa di Bali. Saat 2 hari raya, pecalang yang Hindu selalu hadir dalam proses penjagaan, "mereka mengamankan umat Islam yang sedang menjalankan ibadah shalat ied dan perayaan Idul Fitri. Begitu pula dengan saudara-saudara kita di NTT, Papua, Kalbar dan lainnya juga sama, mereka juga hadir dalam misi yang sama pula," tandas Abid kepada Dutaislam.com, Jumat (23/12/2016) malam via WhatsApp.

Karena alasan kebangsaan itulah, Maulana Habib Luthfi bin Yahya tidak melarang Banser NU menjaga gereja, bahkan memerintahkannya. Keterangan ini juga pernah dikatakan kepada salah seorang putra kiai yang ada dalam jaringan Asparagus (Asosiasi Para Gus), didapatkan Dutaislam.com, Jumat (23/12/2016) sore.

Lebih dari itu, Habib Luthfi bahkan di malam Natal ikut berkeliling di depan gereja, duduk bersama polisi dan TNI untuk menjaga stabilitas nasional, sebagaimana juga dilakukan saat beliau turun langsung ikut mengurai kemacetan musim mudik Idul Fitri tahun lalu.

Sampai kapan akan berhenti mengikuti tradisi jaga gereja yang pernah dibangun oleh Gus Dur era 90 an itu? Gus Ghofur, putra KH Maimoen Zubair menyatakan, Banser akan tarik perintah jaga saat natalan jika negeri ini sudah aman dari teror kelompok radikal.

"Tapi sebaliknya, kalau teror terhadap gereja masih ada, maka Banser akan tetap menjaga gereja karena dalam fikih Islam itu sudah clear," ujar Gus Ghofur sebagaimana dilansir Dutaislam.com dari situs NU Online. Kini, giliran Banser menjaga haul Gus Dur ke-7 agar tetap berjalan lancar karena hampir berbarengan dengan perayaan Natal.

Kebenaran relatif

Kebenaran relatif
Orang yang tidak faham ilmu logika sering mengatakan “Tidak ada kebenaran absolut, yang ada adalah kebenaran relatif”. kebenaran relatif disebut juga kebenaran subjektif, yaitu kebenaran yang ukurannya adalah pendapat diri sendiri secara subjektif tanpa didukung fakta , referensi ,tanpa analisa dan tidak berdasarkan pengujian secara empiris-logis.
Wilayah logika
Kebenaran relatif atau kebenaran subjektif berada pada wilayah:
-keyakinan
-selera
-nilai
-bahasa/definisi/artikata/terjemah/tafsir
Contoh:
-Si A berpendapat agama Islam adalah agama terbaik. Si B berpendapat agama Kristen adalah agama yang terbaik. Si C berpendapat agama Hindu adalah agama yang terbaik.
-Si A berpendapat musik jazz adalah musik yang enak didengar. Si B berpendapat musik dangdut adalah musik yang enak di dengar. Si C berpendapat musik klasik adalah musik yang enak di dengar
-Si A berpendapat warna biru lebih baik daripada warna merah. Si B berpendapat warna merah lebih baik daripada warna hijau. Si C berpendapat warna hijau lebih baik daripada warna kuning.

Kebenaran Hakiki

Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan obyek[1] bisa juga diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yg sesuai dengan (atau tidak ditolak oleh) orang lain dan tidak merugikan diri sendiri.
Kebenaran adalah lawan dari kekeliruan yang merupakan objek dan pengetahuan tidak sesuai.
Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan objek, yakni pengetahuan yang obyektif. Karena suatu objek memiliki banyak aspek, maka sulit untuk mencakup keseluruhan aspek (mencoba meliputi seluruh kebenaran dari objek tersebut)
Kebenaran menjadi arah pedoman untuk kehidupan. Mau tidak mau seseorang harus mempunyai pedoman dalam tindakan atau perilaku didalam kehidupannya. Hal ini didapat melalui pendidikan dan pengalaman dalam perkembangan kehidupan dari anak sampai dewasa. Merubah pedoman kehidupan akan dilalui dari waktu-kewaktu dalam pergolakan pemikiran. 

Kebenaran absolut/ kebenaran universal
Supaya bisa menentukan apakah kebenaran absolut/kebenaran universal itu ada, pertama-tama kita perlu mendefinisikan apa itu kebenaran.

Kebenaran didefinisikan “kesesuaian dengan fakta atau yang sebenarnya; pernyataan yang terbukti atau diterima sebagai benar; kenyataan atau keadaan yang sebenarnya.” Sebagian orang mengatakan bahwa tidak ada realita sebenarnya, tapi hanyalah persepsi dan opini. Di sisi lain, ada pihak yang percaya adanya realita absolut atau kebenaran absolut.

Karena itu, ketika mempertimbangkan pertanyaan apakah ada yang dapat disebut sebagai kebenaran absolut, kita menemukan dua pendapat yang bertolak belakang.

Pendapat yang satu mengatakan bahwa tidak mungkin ada apapun yang secara absolut bisa mendefinisikan realita. Mereka percaya bahwa segala sesuatu itu bersifat relatif dan karena itu tidak ada realitas yang sejati. Karena itu, pada hakekatnya tidak ada otoritas apapun yang bisa menentukan suatu tindakan itu positif atau negatif, benar atau salah.

Pandangan ini sebenarnya tidak lebih dari “etika situasi;” yang menganggap tidak ada yang benar atau salah. Karena itu, yang benar merupakan apa yang dianggap benar pada waktu itu.

“Etika situasi” seperti ini mendorong seseorang memiliki mentalitas dan cara hidup “apapun yang dirasa baik,” yang bisa saja memiliki dampak yang merusak masyarakat dan individu-individu.

Sebaliknya, pandangan lain percaya realita atau standar absolut yang bisa menentukan apa yang benar dan tidak itu benar-benar ada. Satu tindakan dapat dikategorikan benar atau salah dengan membandingkannya terhadap standar-standar yang absolut itu. Dapatkah Saudara membayangkan kekacauan yang terjadi kalau tidak ada standar .

Coba pertimbangkan kalau tidak ada kebenaran absolut dan segala sesuatu itu relatif (tidak ada standar apapun). Setiap orang akan menentukan peraturannya sendiri dan melakukan apa pun yang mereka anggap benar. Ini menimbulkan masalah ketika apa yang dipandang benar oleh seseorang bertentangan dengan apa yang dipandang benar oleh orang lain. 


Sidang Ahok, Penentu Status Ahok Sebagai Penista Atau Pembela Agama

Hari ini, Selasa (13/12/2016), sidang perdana kasus Ahok ini akan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya memprediksi yang menjadi pusat penentu status Ahok, bukan pada pasal-pasal hukum yang akan diperdebatkan, melainkan kepada tafsir Surat Al maidah 51 yang sampai saat ini masih multi tafsir. Multi tafsir karena di Indonesia, tafsir surat tersebut diartikan pemimpin daerah.
Anggap Dakwaan Tidak Jelas, Kuasa Hukum Ahok Minta Dakwaan Dibatalkan

.

.
.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...