. Demak Ibukota Negara Yang Terlupakan

Demak Ibukota Negara Yang Terlupakan

Raden Fatah
Pada awal abad ke-16, Kerajaan Demak telah menjadi kerajaan yang kuat di Pulau Jawa, tidak satu pun kerajaan lain di Jawa yang mampu menandingi usaha kerajaan ini dalam memperluas kekuasaannya dengan menundukan beberapa kawasan pelabuhan dan pedalaman di nusantara.



Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa ("Pasisir"). Menurut tradisi Jawa, Demak sebelumnya merupakan kadipaten sebuah kerajaan bawahan dari kerajaan Majapahit dengan sebutan Bintoro juga disebut Glagah Wangi, kemudian muncul sebagai kekuatan baru mewarisi legitimasi dari kebesaran Majapahit. 

Kerajaan ini tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Walau tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Demak beralih ke Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang menurut tradisi didirikan oleh Walisongo.

Lokasi keraton Demak, yang pada masa itu berada di tepi laut, berada di kampung Bintara (dibaca "Bintoro" dalam bahasa Jawa), saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Sebutan kerajaan pada periode ketika beribukota di sana dikenal sebagai Demak Bintara. Pada masa raja ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata (dibaca "Prawoto") dan untuk periode ini kerajaan disebut Demak Prawata.

Dulu Demak menjadi pusat kerajaan, sebagai kota besar yang roda perekonomiannya lebih maju dari daerah lainnya. Kini Demak hanya dipandang sebelah mata orang sepertinya diabaikan potensi dan peluang kemakmurannya.

Wilayah Kerajaan Demak


Peluang dan Potensi Demak

Untuk menggapai kembali kejayaan itu, perlu upaya pemberdayaan segenap potensi. Kunci keberhasilan pembangunan daerah bertumpu pada kekuatan lokal dan kebersamaan masyarakatnya. Selain itu, menuntut  kejelian stakeholders dalam melihat segala potensi agar dapat meningkatkan kesejahteraan daerah, baik yang berpengaruh langsung dengan aspek ekonomi maupun kesejahteraan masyarakatnya.

Era otonomi daerah (otda) yang sedang bergulir di Indonesia secara langsung maupun tidak langsung membawa pengaruh yang cukup luas pada tatanan kehidupan masyarakat lokal, tak terkecuali Demak.

Kondisi ini telah memberikan suatu kesadaran baru bagi kalangan pemerintah daerah ataupun masyarakat, bahwa kita tidak bisa lagi membiarkan gelombang otonomi mengalir begitu saja tanpa upaya untuk mengarahkan dan mengisinya dengan tindakan nyata yang positif demi kemajuan wilayah.

Karena itu perlu kesungguhan dalam memberdayakan segenap potensi daerah. Ada beberapa potensi yang perlu dieksplorasi, pertama, potensi sejarah. Sebagai pusat kerajaan dan pusat perjuangan melawan penjajah, Demak mempunyai sejarah yang gemilang. Namun sejauh ini kekuatan sejarah belum mampu secara maksimal menjadi spirit bagi kemajuan masyarakatnya.

Bahkan letak bekas Keraton Demak belum diketahui secara pasti. Banyak sejarawan yang datang untuk meneliti dan mencari tahu keberadaan keraton, namun hingga kini lokasi pastinya masih mengundang pro dan kontra.

Mengulang Kejayaan


Padahal, menghadirkan situs dan silsilah kerajaan Demak pada masa kini sangat mungkin digunakan untuk mengubah situasi masyarakat yang tidak lagi ideal. Sebuah masyarakat yang jauh dari ketika kerajaan Demak didirikan oleh para wali, pada saat daerah itu dipimpin oleh Raden Patah, Patiunus, atau Trenggono. Mengulang kejayaan kerajaan Demak dalam kehidupan masa kini bukanlah hal yang mustahil.

Kedua, potensi sektor unggulan. Masyarakat harus mampu memetakan berbagai potensi yang dimiliki. Setidaknya, pemetaan potensi ini mengacu pada empat sektor unggulan yang sedang dan bakal digarap serius guna membangkitkan kembali kejayaan Demak. Keempat sektor tersebut adalah pertanian, perikanan dan kelautan, pariwisata, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pertanian menjadi sektor yang mesti diprioritaskan mengingat sebagian besar masyarakat masih mengandalkan sumber nafkahnya dari sektor ini. Apalagi Demak menjadi lumbung padi terbesar ketiga di Ja-teng (setelah Cilacap dan Grobogan), serta salah satu sentra penghasil kacang hijau terbesar di Indonesia.

Selain itu, di era sekarang orang mengenal Demak dengan jambunya. Dalam perspektif religi, orang mengenal Demak sebagai Kota Wali, dan dalam perspektif pertanian, daerah ini mempunyai produk khas yang berbeda dari daerah lain, yakni belimbing, jambu delima, dan jambu citra.

Ketiga, potensi budaya. Dalam menyebarkan agama Islam di Demak, para wali umumnya menggunakan sarana budaya dan tradisi yang ada, baik dengan wayang, gamelan, maupun seni suara suluk sebagai sarana dakwah.

Mereka mampu membawa warisan budaya lokal yang dapat bertahan hingga sekarang, seperti tradisi Garebeg Besar, Kupatan, dan Apitan. Demak juga kaya dengan karya sastra. Potensi budaya ini jika dikembangkan akan menjadi ikon.

Demak juga mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi daerah wisata religi, dengan Masjid Agung Demak dan Makam Kadilangu sebagai simbolnya. Jika banyak pengunjung datang ke Demak, maka akan ada perputaran uang dan pertumbuhan ekonomi, yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat.


1 komentar:

Vicio rizky mengatakan...

hmmm tragis memang nasib demak. hrus dbangkitkan lgi seperti dulu komen back y

.

.
.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...