. Rhoma Irama di Mata Najwa

Rhoma Irama di Mata Najwa


Di awal acaranya, Mata Najwa, Metro TV, Rabu, 28 November 2012, host Najwa Shihab mengatakan, apakah bersedianya dan siapnya Rhoma Irama maju sebagai capres 2014 itu serius atau hanya suatu dagelan di akhir tahun?
(Saya sertakan video acara tersebut, yang diambil dari Youtube, di bagian akhir artikel ini).
Dari mengikuti acara tersebut, menurut saya, ini termasuk dagelan di akhir tahun.

Adegan layaknya dagelan terjadi ketika percakapan Najwa Shihab dengan Rhoma Irama itu memasuki topik kedua dan ketiga (terakhir), setelah di topik pertama berbicara soal latar belakang pencalonan dan kesediaannya dicalonkan sebagai capres 2014, yang sangat kental SARA-nya itu.

Topik kedua itu adalah tentang isu-isu publik yang penting yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi kontroversi di masyarakat. Yakni soal subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas.
Sedangkan topik ketiga, tentang konsekuensi seseorang mau menjadi presiden, pejabat publik. Yakni,  harus siap dikritik, siap “ditelanjangi”, siap “dikupas,” bahkan sampai ke soal-soal pribadinya oleh publik.

Najwa bertanya, apakah Rhoma mengikuti perkembangan isu-isu publik yang penting dan saat ini, yang  sedang ramai dibicarakan itu. Rhoma menjawab bahwa dia mengikutinya, tetapi tidak terlalu intens.
Ketika Najwa bertanya kepada Rhoma Irama hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana mengenai subsidi BBM, APBN, dan pembubaran BP Migas, Rhoma beberapa kali terlihat tergagap-gagap menjawabnya. Kalau menjawab, tidak nyambung. Kelihatan sekali bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan umum dari Najwa Shihab tentang isu-isu publik yang penting itu, Rhoma tidak mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Dia bahkan beberapakali berusaha mengeles, tetapi bukan nama najwa Shihab kalau tidak bisa mengejar terus, sehingga Rhoma pun beberapa kali terpojok oleh jawabannya sendiri. Rhoma Irama telah merasakan betapa panasnya  kursi panasnya Mata Najwa.

Beberapakali Rhoma mengeles dari pertanyaan-pertanyaan Najwa,  dengan mengatakan, “Saya bukan ahli soal perminyakan,” “Untuk menjadi seorang presiden bukan berarti harus menjadi Superman yang mengerti semuanya,” “Ini ‘kan masih wacana sebagai capres. Belum capres. Nanti kalau sudah capres baru saya akan mendalaminya secara detail,” dan seterusnya.
Najwa memotong gaya mengeles Rhoma itu dengan mengatakan, “Yang saya tanyakan itu hal-hal yang sederhana, yang umum-umum saja,” “Maka itu, saya tanyakan secara umum saja, global saja, tidak menanyakan sampai ke soal angka-angkanya, …”

Tentang Subsidi BBM: Apakah anda setuju soal subsidi BBM, atau sebaiknya dikurangi secara bertahap?

Rhoma: “Secara spesifik saya bukan ahli di bidang minyak …”
Najwa: “Saya tidak bertanya secara spesifik, tetapi lebih pada apakah mendukung policy seperti itu? Dengan konsekuensi semakin memberatkan anggaran. Yang umum-umum saja, jawabnya.”
Rhoma: “Juga, saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab hal itu. Saya bukan ahli perminyakan. Bahwa seorang presiden bukan harus menjadi Superman untuk mengerti segala hal.”
Najwa: “Maka itu, saya tidak meminta anda menjelaskan dengan angka-angka. Yang umum saja, yang global saja.”
Rhoma pun menjawabnya soal orientasi kepada kemakmuran rakyat, segala hal bisa dilakukan.

Tentang APBN: Sebagai seorang presiden anda harus mampu mengelola keuangan negara secara sehat. Menurut anda, bagaimana itu mengelola APBN secara sehat?

Rhoma menjawabnya dengan menyebutkan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sebagai sumber pemikirannya, untuk diimplementasi selanjutnya dengan cara yang berbeda untuk setiap hal.
Najwa: “Dalam konteks APBN, mengelola keuangan, apakah dalam porsi sekarang, 80 persen lebih banyak digunakan untuk belanja rutin: subsidi, gaji pegawai, biaya operasional. Sedangkan biaya modal hanya 10 persen Apakah itu ideal?”

Dengan gugup Rhoma berkata, “Eee…ee… Saya belum bicara soal itu, ya …”
Najwa: “Anda tidak melihat bahwa hal-hal ini penting diketahui, apabila kita benar-benar berniat membenahi negeri ini?”

Rhoma mengeles, “Begini, begini, kita ‘kan baru dalam tahapan wacana capres. Belum sampai ke capres. Ada tahapan-tahapannya. Nanti pada tahapan itu baru kami mendalaminya secara detail dari pada persoalan-persoalan bangsa ini.”

Najwa mengejarnya, “Tapi, tadi, bukan detail, dong, pertanyaan saya. Itu masih sesuatu yang sangat umum.”
Rhoma kembali bicara soal UUD 1945. Semua itu berpatokan pada UUD 1945, katanya.

Tentang Keputusan MK yang membubarkan BP Migas: Apakah itu keputusan yang tepat?
Rhoma: “Mmmmm … saya belum bisa menilai itu secara kongkrit. Karena saya belum mendalami itu secara serius ….”

Hati-hati bicara dengan Najwa Shihab, Karena setiap perkataan yang keluar dari mulutmu bisa dijadikan bumerang untuk “ menghantam” balik anda!

Najwa: “Tetapi, memang anda akui bahwa anda belum detail dan masuk ke hal-hal yang umum seperti tadi, ya? … Dan merasa tidak penting untuk diketahui? (oleh karena itu belum mendalaminya secara serius)”

Rhoma: “Maka itu, tadi saya katakan bahwa ini masih wacana … Masih wacana …”

Najwa: “Masih wacana, tetapi anda mengatakan sudah siap untuk digadang-gadang. Berarti anda yakin akan bisa (menjadi presiden)?”

Rhoma: “Saya rasa presiden itu punya think tank, punya kabinet, punya brain trust. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah.”

Najwa: “Tapi, harus dipastikan juga bahwa presiden tidak dikelabui anak buahnya.”

Rhoma: “Yes, tentu saja.  Yang penting presiden itu punya misi, visi dan konsep yang jelas untuk mengelola negara ini dari berbagai aspek.

Oh, jadi, rupanya menurut Bang Rhoma menjadi presiden itu tidak perlu pintar, tidak perlu tahu tentang hal-hal yang mendasar soal seperti subsidi BBM, APBN, dan sejenisnya, seperti yang diajukan oleh Najwa Shihab itu, ya? Yang penting ada para pembantunya, menterinya. Tapi, masa iya, pembantu-pembantunya itu jauh lebih pintar daripada presidennya sendiri? Kalau rapat-rapat kabient, misalnya, bisa-bisa serba tidak nyambung pembicaraannya.

Apakah iya, untuk mempunyai visi dan misi serta konsep yang jelas seorang presiden tidak harus mempunyai dasar pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk itu?
*
Selesai “menguji” pengetahuan umum Rhoma Irama, Najwa beralih ke soal konsekuensi seseorang menjadi presiden. Antara lain siap “dikuliti”,  siap “ditelanjangi”, siap dibicarakan soal-soal pribadinya, bagaimana track record-nya diukur,  dan sebagainya.

“Apakah anda siap untuk itu?” Tanya Najwa.

“Siap,” jawab Rhoma, “Itu hal yang biasa. Hukum alam …”

Najwa:  “Jadi, tidak apa-apa juga, kalau misalnya, saya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi dari Abang, sekarang?”

“Silakan!”

“Abang berpoligami?”

Airmuka Rhoma sejenak berubah, terdiam sesaat, kemudian dengan tersenyum sinis, dia menjawab, “Mmmm… Saya rasa ini bukan untuk konsumsi publik, dan anda mengerti itu.”

Najwa: “Tadi, kan konteksnya sudah siap dikuliti hal-hal yang memang kaitannya kalau menjadi pejabat publik. Anda keberatan menjawab itu?”

Nggak juga, sih. Tapi publik kan tahu siapa saya?”

“Berarti anda memang berpoligami …”

“Kalau anda menanyakan itu, berarti anda nggak mengerti tentang saya!” Seru Rhoma sambil menunjuk-nunjuk Najwa.

“Oke, sikap anda kemudian sudah bisa dipahami.”

Mungkin karena merasakan hampir semua perntanyaannya dijawab oleh Rhoma Irama seperti jawaban murid SMP, atau bahkan SD, Najwa pun menanyakan, skill apa yang dimiliki oleh Rhoma Irama selain musik dan berkhotbah.

Dibandingkan dengan pertanyaan tentang poligami, yang membuatnya tersinggung itu, seharusnya pertanyaan ini lebih patut membuat Rhoma tersinggung. Tetapi, ternyata tidak. Dengan mantap Rhoma menjawab bahwa dia ini sebetulnya dulu pernah kuliah di (Fakultas) Sosial Politik, — entah di perguruan tinggi mana, tidak disebutkan. Tetapi, dengan terus terang, dia bilang, “Saya dulu itu mahasiswa drop out.”

Namun demikian, kata Rhoma, ketertarikannya dengan dunia politik itu sangat kuat. Terbukti dari kiprahnya di dunia ini mulai di tahun 1977 sampai dengan 1997. Sampai masuk Senayan (maksudnya ketika menjadi anggota DPR dari Golkar).
*
Lepas dari semua dialog antara Najwa dengan Rhoma itu, ada satu hal yang sebenarnya menjadi pertanyaan di dalam hati saya, kenapa kok kali ini Rhoma Irama tampil dengan berkacamata hitam? 

Kenapa di sepanjang acara Mata Najwa itu Rhoma Irama terus berkaca mata hitam? Apakah dia sedang sakit mata? Rasanya, kurang sopan kalau orang tampil di momen seperti ini, tampil di depan umum, disiarkan televisi, berbicara dengan orang, tidak melepaskan kacamata hitamnya.

Kira-kira apa ya alasannya Rhoma berkacamata hitam itu?
*
Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan Najwa di awal acaranya itu: Apakah pencalonan dan kesediaan Rhoma Irama maju dalam pilpres 2014 itu serius, ataukah dagelan di akhir tahun?”

Menurut anda? ***

Sumber: Kompasiana
 

1 komentar:

Unknown mengatakan...

smoga sukses sang raja dangdut xixixi komen back y

.

.
.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...