. TRANSPARANSI IDENTITAS DI DUNIA MAYA

TRANSPARANSI IDENTITAS DI DUNIA MAYA

Hubungan Trasparansi Identitas dan Karakter di Dunia Maya


Hampir setiap saat apabila saya membaca tulisan di blog maupun facebook maka selanjutnya saya tengok penulisan identitas profil penulis facebook maupun email komentator di blog. Yang menarik bagi saya adalah dalam pencantuman identitas maupun profil ada beberapa jenis tingkatan kejujuran, mulai dari yang terbuka yaitu pencantuman photo pribadi, nama asli, dan pencantuman identitas asli lainnya, ada juga yang tidak berani mencantumkan photo diri maupun nama samaran atau setengah samar dan tanpa identitas bahkan identitas yang kabur.

Umumnya mereka yang mencantumkan nama terang, photo diri dan identitas lenkap akan memberikan komentar dan tulisan yang lebih teratur serta pesan yang sopan. Sementara pada komentar-komentar di blog dengan kata-kata ’jorok’ biasanya memakai identitas yang samar untuk menyembunyikan diri.

Akhirnya pemikiran tersebut menjadikan Saya kurang tertarik dengan permintaan pertemanan facebook yang tidak mencantumkan nama jelas, photo diri dan identitas pendukung lainnya. Setidaknya saya sudah menangkap kesan kurang tertarik membaca tulisan dari teman yang ’bertopeng’ atau 'pemalu'..

Semestinya perasaan penilaian subyektip ini harus saya kubur dalam-dalam dan mencoba untuk tetap berprasangka baik sebab banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keterbukaan identitas diri. Mulai dari masalah rasa percaya diri, kualitas wawasan, karakter dasar personal dan sampai pada motivasi menjelajah dunia maya yang akan tercermin pada kualitas pencantuman identitas.

Seorang yang hadir dengan tulisan mengkritik ’pedas’ bisa jadi mendorong kita akan memperbaiki diri, sebaliknya seorang teman yang berkomentar memuji kita bisa jadi membuat kita cepat puas diri dan berujung tenggelam di’kolam bunga teratai’ yang membuat kita sulit untuk benah diri.

Ada juga tulisan dengan keluguan yang memang mencerminkan ketidaktahuan, biasanya juga ’takut’ mencantumkan identitas asli. Dalam jaringan sosial dunia maya sebaiknya kita anggap pertemanan sebagai teman juga, keragaman pertemanan menjadikan dunia maya bisa menjadi lebih indah.

Saya sendiri bukan seorang sarjana sosiologi atau sosiologi, meskipun sosiologi adalah salah satu bidang pengetahuan yang menarik saya sejak dulu. Tetapi sejak lama saya tertarik dengan sejumlah gejala dalam komunikasi di dunia maya Apa yang akan saya tulis berikut ini jelas bukan pengamatan seorang sarjana, tetapi observasi amatiran. Anda boleh tak setuju dengan pengamatan saya ini. Anda juga bisa mengajukan interpretasi lain. (Azhar)

2 komentar:

Rizal Nurhidayat mengatakan...

Wah... bener tuh sobh... ane setuju tuh... :D

Yan Chriestiano mengatakan...

hppy blogging aja :)

.

.
.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...