. Kebenaran Hakiki

Kebenaran Hakiki

Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan obyek[1] bisa juga diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yg sesuai dengan (atau tidak ditolak oleh) orang lain dan tidak merugikan diri sendiri.
Kebenaran adalah lawan dari kekeliruan yang merupakan objek dan pengetahuan tidak sesuai.
Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan objek, yakni pengetahuan yang obyektif. Karena suatu objek memiliki banyak aspek, maka sulit untuk mencakup keseluruhan aspek (mencoba meliputi seluruh kebenaran dari objek tersebut)
Kebenaran menjadi arah pedoman untuk kehidupan. Mau tidak mau seseorang harus mempunyai pedoman dalam tindakan atau perilaku didalam kehidupannya. Hal ini didapat melalui pendidikan dan pengalaman dalam perkembangan kehidupan dari anak sampai dewasa. Merubah pedoman kehidupan akan dilalui dari waktu-kewaktu dalam pergolakan pemikiran. 

Kebenaran absolut/ kebenaran universal
Supaya bisa menentukan apakah kebenaran absolut/kebenaran universal itu ada, pertama-tama kita perlu mendefinisikan apa itu kebenaran.

Kebenaran didefinisikan “kesesuaian dengan fakta atau yang sebenarnya; pernyataan yang terbukti atau diterima sebagai benar; kenyataan atau keadaan yang sebenarnya.” Sebagian orang mengatakan bahwa tidak ada realita sebenarnya, tapi hanyalah persepsi dan opini. Di sisi lain, ada pihak yang percaya adanya realita absolut atau kebenaran absolut.

Karena itu, ketika mempertimbangkan pertanyaan apakah ada yang dapat disebut sebagai kebenaran absolut, kita menemukan dua pendapat yang bertolak belakang.

Pendapat yang satu mengatakan bahwa tidak mungkin ada apapun yang secara absolut bisa mendefinisikan realita. Mereka percaya bahwa segala sesuatu itu bersifat relatif dan karena itu tidak ada realitas yang sejati. Karena itu, pada hakekatnya tidak ada otoritas apapun yang bisa menentukan suatu tindakan itu positif atau negatif, benar atau salah.

Pandangan ini sebenarnya tidak lebih dari “etika situasi;” yang menganggap tidak ada yang benar atau salah. Karena itu, yang benar merupakan apa yang dianggap benar pada waktu itu.

“Etika situasi” seperti ini mendorong seseorang memiliki mentalitas dan cara hidup “apapun yang dirasa baik,” yang bisa saja memiliki dampak yang merusak masyarakat dan individu-individu.

Sebaliknya, pandangan lain percaya realita atau standar absolut yang bisa menentukan apa yang benar dan tidak itu benar-benar ada. Satu tindakan dapat dikategorikan benar atau salah dengan membandingkannya terhadap standar-standar yang absolut itu. Dapatkah Saudara membayangkan kekacauan yang terjadi kalau tidak ada standar .

Coba pertimbangkan kalau tidak ada kebenaran absolut dan segala sesuatu itu relatif (tidak ada standar apapun). Setiap orang akan menentukan peraturannya sendiri dan melakukan apa pun yang mereka anggap benar. Ini menimbulkan masalah ketika apa yang dipandang benar oleh seseorang bertentangan dengan apa yang dipandang benar oleh orang lain. 


Tidak ada komentar:

.

.
.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...