. Kisah Kasrin Perjalanan Naik Haji Secara Gaib

Kisah Kasrin Perjalanan Naik Haji Secara Gaib

Kasrin (59), tukang becak asal Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang yang sempat menghebohkan karena mengaku naik haji secara ajaib, telah pulang ke rumahnya, Selasa (4/9/2016).

Kehebohan ternyata masih berlanjut setelah tukang becak yang biasa mangkal di depan Masjid Jami' Lasem tersebut pulang. Orang berbondong-bondong datang ke rumahnya, bahkan ada yang datang pukkul 02.00 dini hari. Bukan hanya itu, Kasrin kini juga jadi orang pintar dadakan. Di antara tamu yang datang, tak semua hanya ingin mendengar cerita dari Kasrin. Beberapa di antaranya meminta didoakan si tukang becak.

Kasrin yang pulang ke Rembang tanggal 4 Oktober 2016, dielu-elukan oleh keluarga serta kerabatnya, setelah 44 hari "menghilang" dari rumahnya , dia pulang dari "naik haji" dengan membawa sejumlah oleh-oleh seperti halnya jamaah haji biasanya antara lain sajadah, tasbih, mukena, teko dan gelas kecil-kecil khas Arab Saudi, serta tak ketinggalan air zamzam sebanyak satu jeriken.

Oleh-oleh yang Kasrin bawa pulang adalah bentuk nyata. Namun kepergiannya, selama perjalanan, naik bus ke Embarkasi Donohudan, Boyolali naik pesawat, dan selama berada di Tanah Suci, masih misterius. Banyak tamu mengunjungi rumahnya, suasana berubah makin ramai. Banyak tetangga, teman kerja tukang becak, kerabat bercengkerama di rumah sederhana itu. Sejumlah botol berisi air putih berada di meja depan dudukKasrin. Botol-botol itu selanjutnya dibawa pulang oleh tamunya setelah didoakan oleh Kasrin.

Kasrin pulang mengenakan pakaian layaknya orang baru pulang ibadah haji. Baju koko putih, dan peci atau kupluk warna putih. Senyumnya pun makin mudah tersunggih di wajahnya. Sesekali tangannya tak bisa menahan ketika ditarik orang untuk disalami dan diciumnya. Anak Kasrin bernama Istiqomah tampak sibuk melayani tamu-tamu yang datang ke rumah ayahandanya hingga tengah malam. Tamu yang datang pun bukan hanya dari Rembang semata. Namun tidak sedikit yang berasal dari luar Rembang. Mulai Pati, Kudus, Jepara hingga Semarang. Mereka penasaran dengan kisah Kasrin si "Haji Ajaib".

Tukang becak yang biasa mangkal di Masjid Jami Lasem Kabupaten Rembang itu memaparkan pengalamannya selama berada di Tanah Suci. Dia memang tidak terdaftar di kantor Kemenag Rembang. Tak ada di listing daftar jemaah haji 2016. Namun, jadwal kepulangan Kasrin pun tanggal 4 Oktober sebagaimana jadwal resmi jamaah haji Rembang pulang.

Misteri Bu Indi Dari Dunia Lain
Menurut penuturan Kasrin, sejak berangkat pada Selasa 23 Agustus lalu, dia tak pernah berpisah dengan Bu Indi. Nama itu memang disebut sejak awal dalam kisah perjalanan Kasrin. Bu Indi adalah sosok makhluk dari dunia lain alias makhluk halus (jin). Meski Indi adalah makhluk halus, namun menurut cerita Kasrin, Indi telah 21 tahun ini menjadi langganannya sebagai penumpang becak. Rumah Bu Indi diakui tak jauh dari Balai Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, Rembang. Sebelum "kenal" Indi alamat yang disebutkan Kasrin tersebut hanya berupa hamparan tanah kosong. Sebagaimana orang melihat bahwa alamat yang dimaksud adalah tanah lapang ilalang. Tapi bagi Kasrin, di tanah kosong itu sebenarnya secara gaib ada rumah mewah milik Bu Indi. "Tapi sejak mengenal Indi, dalam pandangan saya di situ ada rumah. Mungkin kalau yang lihat orang lain, ya masih berupa tanah kosong, tak ada rumah di situ," ucapnya.

Lebih lanjut dikatakannya, sejak berangkat dari Lasem, Indi selalu berada di dekatnya. Ia diperintahkan oleh Indi, untuk memegangi pakainan bagian belakang sosok perempuan dari dunia lain itu. "Di dalam bus saat berangkat, bu Indi duduk di samping saya. Kami duduk di bagian tengah, tapi sepertinya orang-orang di bus tak menyadari keberadaan kami," lanjut dia. Sesampainya rombongan di Embarkasi Donohudan, Boyolali, hal serupa juga dialami Kasrin.

"Sesampainya di Solo dulu ya naik pesawat bareng-bareng dengan rombongan dari Rembang. Ya naik begitu saja, gak diperiksa atau gimana-gimana," aku Kasrin. Kasrin diwanti-wanti jangan sampai terlepas dari Bu Indi. Jika sampai terpisah Kasrin tak akan bisa pulang kembali ke tanah air. "Di sana, di tanah suci selama 44 hari menunaikan ibadah haji, saya selalu nginthil (mbuntuti) bu Indi. Baik saat sa'i, tawaf mengelilingi ka'bah, salat, dan lain-lain," cerita dia. Bahkan, ia pun menginap di pemondokan bareng Indi. "Saya nginap di sebuah bangunan dua lantai. Jadi ke mana pun bu Indi berada, saya ada di situ. Makan bareng, tidur bareng, semuanya bersama gak boleh pisah," sambungnya.

Tak hanya diminta untuk terus berada di dekat Indi, Kasrin pun diperintahkan untuk tak berkomunikasi dengan orang lain, tanpa seizin perempuan tersebut. "Semua kebutuhan saya sudah dipenuhi bu Indi," kata dia. Saat Hari Kurban pun, Kasrin dan Indi masing-masing berkurban satu ekor unta. "Satu unta untuk kelurga di sini, satu unta untuk keluarga bu Indi. Harga satu ekornya Rp 17 juta, beli pakai duitnya bu Indi. Saya hanya nyumbang Rp 2 juta, uang saku yang saya bawa dari rumah saat berangkat," tuturnya.

Ditandaskan Kasrin, saat kepulangan kemarin ia juga bersama sosok Indi, hingga sampai di rumah. "Bu Indi juga ikut ke sini, tapi tak ada yang bisa melihatnya. Sekarang pun orangnya ada di dalam kamar," tandas dia.

Memang diyakini ada makhluk gaib termasuk jin yang juga diperintahkan oleh Allah untuk beribadah, sebagaimana umat manusia. Bagi jin yang beriman, mereka juga melaksanakan syariat untuk berbakti kepada Tuhan sang pencipta alam semesta. Bahkan ada yang meyakini bahwa jin atau makhluk halus ada kalanya belajar agama kepada manusia yang mempuni. Derajat manusia tetap lebih tinggi dibanding makhluk halus atau jin itu. Meskipun jin bisa melihat manusia, sedangkan manusia pada umumnya tidak bisa melihat jin.

Lantas apakah di zaman sekarang masih ada bentuk kerjasama dalam peribadatan kepada Tuhan, yang dijalin antara manusia dengan jin? Bagi kalangan orang-orang khos (khusus) hal itu bisa saja masih terjadi, dan tentu saja tidak terpublikasikan. Hanya kalangan tertentu yang tahu. Namun untuk kerjasama antara manusia dengan jin dalam hal keburukan atau "bukan kesalehan", masih ada. Dan itu sering tidak disadari oleh orang awam. Misalnya kerjasama antara manusia dengan jin, dalam bentuk perdukunan, persugihan, prewangan, santet, thuyul dan sebagainya.

Bagaimana dengan sosok Kasrin si tukang becak yang biasa mangkal di Masjid Jami Lasem Kabupaten Rembang, yang "mengaku" melaksanakan ibadah haji secara gaib? Masyarakat dan pembaca juga menganggapnya misterius, ajaib dan sebagian menilai itu haji gaib. Dia mengaku selama 44 hari di Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji, sebagaimana jemaah haji Indonesia. Kasrin berangkat 23 Agustus dan pulang 4 Oktober 2016.

Bedanya, Kasrin warga Dukuh Gembul, Desa Sumberjo, Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang Jawa Tengah itu naik haji diantar oleh makluk gaib. Kasrin menyebut makhluk gaib itu sebagai Bu Indi. Wanita yang dianggapnya sebagai Bu Indi itu adalah sosok gaib, yang sudah dikenal Kasrin sejak 21 tahun silam dan menjadi "langganan" sebagai penumpang becaknya.

Wartawan Tribun Jateng yang mengunjungi lagi rumah Kasrin setelah pulang dari Tanah Suci ke Rembang (5/10) diberikan penjelasan tentang siapa itu sosok Bu Indi. Sambil memberikan air zamzam Kasrin menuturkan bahwa Sosok Bu Indi sekarang pun tinggal di rumah Kasrin, ada di kamarnya.

Anak Kasrin bernama Istiqomah tampak sibuk melayani tamu-tamu yang datang ke rumah ayahandanya hingga tengah malam. Tamu yang datang pun bukan hanya dari Rembang semata. Namun tidak sedikit yang berasal dari luar Rembang. Mulai Pati, Kudus, Jepara hingga Semarang. Mereka penasaran dengan kisah Kasrin si "Haji Ajaib".

Bu Indi adalah sosok gaib yang tinggal di rumah megah. Bukan rumah megah nyata namun gaib. Hanya Kasrin yang biasa ke rumah megah itu. Tempatnya di padang ilalang atau tanah lapang di tak jauh dari Balai Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, Rembang. Bu Indi adalah sosok makhluk dari dunia lain alias makhluk halus (jin). Meski Indi adalah makhluk halus, namun telah 21 tahun menjadi langganannya sebagai penumpang becak.

Orang atau teman sesama tukang becak melihat tanah kosong itu ya hamparan tanah tanpa rumah. Namun di situlah menurut Kasrin, Bu Indi berdiam selam ini. "Tapi sejak mengenal Indi, dalam pandangan saya di situ ada rumah. Mungkin kalau yang lihat orang lain, ya masih berupa tanah kosong, tak ada rumah di situ," ucap Kasrin yang mengenakan pakaian baju koko dan peci putih.

Sejak berangkat dari Lasem, Indi selalu berada di dekat Kasrin.Kasrin disuruh oleh Indi, untuk memegangi pakainan bagian belakang sosok jin perempuan itu. "Di dalam bus saat berangkat, bu Indi duduk di samping saya. Kami duduk di bagian tengah, tapi sepertinya orang-orang di bus tak menyadari keberadaan kami," lanjut dia.

Sesampainya rombongan di Debarkasi Donohudan, Boyolali, hal serupa juga dialami Kasrin. "Sesampainya di Solo dulu ya naik pesawat bareng-bareng dengan rombongan dari Rembang. Ya naik begitu saja, gak diperiksa atau gimana-gimana," aku Kasrin. Kasrin diwanti-wanti jangan sampai terlepas dari Bu Indi. Jika sampai terpisah Kasrin tak akan bisa pulang kembali ke tanah air. "Di sana, di tanah suci selama 44 hari menunaikan ibadah haji, saya selalu bersama Bu Indi. Baik saat sa'i, tawaf mengelilingi ka'bah, salat, dan lain-lain," cerita dia.

Bahkan, ia pun menginap di pemondokan bareng Indi. "Saya nginap di sebuah bangunan dua lantai. Jadi ke mana pun bu Indi berada, saya ada di situ. Makan bareng, tidur bareng, semuanya bersama gak boleh pisah," sambungnya. Tak hanya diminta untuk terus berada di dekat Indi, Kasrin pun diperintahkan untuk tak berkomunikasi dengan orang lain, tanpa seizin perempuan tersebut. "Semua kebutuhan saya sudah dipenuhi bu Indi," kata dia.

Saat Hari Kurban pun, Kasrin dan Indi masing-masing berkurban satu ekor unta. "Satu unta untuk kelurga di sini, satu unta untuk keluarga bu Indi. Harga satu ekornya Rp 17 juta, beli pakai duitnya bu Indi. Saya hanya nyumbang Rp 2 juta, uang saku yang saya bawa dari rumah saat berangkat," tuturnya.

Ditandaskan Kasrin, saat kepulangan kemarin ia juga bersama sosok Indi, hingga sampai di rumah. "Bu Indi juga ikut ke sini, tapi tak ada yang bisa melihatnya. Sekarang pun orangnya ada di dalam kamar," tandas dia.

Sumber: Tribune

2 komentar:

Vinz mengatakan...

subhanallah,, semoga panjang umur buat pak kasrin..

Riswanto, S.Pd., Gr. mengatakan...

Wow emejing

.

.
.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...